7 Kesalahan Sering Dilakukan Pedagang, Tanpa Sadar Bikin Pembeli Kabur
Banyak orang mulai berdagang dengan harapan dagangannya akan makin lama makin ramai. Sudah beli barang bagus, harga pun sudah wajar, kadang malah lebih murah dari orang lain. Tempat juga sudah dicari yang strategis mudah dilihat orang. Tapi kenapa lama-kelamaan malah sepi, atau orang beli sekali saja lalu tidak pernah terlihat lagi? Banyak pedagang bingung sendiri, lalu menyalahkan nasib, menyalahkan orang yang pelit, atau menyalahkan persaingan yang terlalu banyak.
Padahal jarang sekali penyebabnya dari hal yang besar. Bukan karena barangnya jelek, bukan juga karena harga kurang murah. Seringkali kesalahannya ada di hal-hal kecil yang dianggap sepele, bahkan tidak disadari sama sekali. Lama-lama hal ini merusak nama baik sendiri tanpa kita tahu penyebabnya. Kepercayaan yang butuh berbulan-bulan dibangun, bisa runtuh hanya karena kebiasaan kecil yang terus dibiarkan. Berikut kesalahan yang paling sering dilakukan pedagang, dan bikin orang enggan kembali lagi:
1. Sikap Berubah Sesuai Barang Yang Dibeli
Ini kesalahan paling banyak dilakukan, dan paling cepat menghabisi pelanggan. Kalau orang terlihat rapi, berpenampilan baik, atau beli banyak dan mahal, disapa ramah sekali, dilayani secepat kilat. Sebaliknya kalau beli sedikit, barang murah, atau berpenampilan sederhana, wajah langsung berubah masam, pelayanan jadi terburu-buru, jawab ketus, atau bahkan dihiraukan sama sekali.
Padahal orang paling ingat bagaimana mereka diperlakukan, bukan seberapa banyak uang yang mereka keluarkan. Sekali saja seseorang diperlakukan tidak enak saat beli barang seribu dua ribu rupiah, mereka tidak akan mau kembali lagi. Bahkan kalau nanti mereka punya uang lebih banyak dan ingin beli barang mahal pun, pasti akan cari tempat lain. Belum lagi mereka akan bercerita ke tetangga, teman, dan keluarga tentang sikapmu. Lama-lama berita itu menyebar, tanpa kamu sadari pelangganmu perlahan pergi satu per satu.
Sikap yang sama rata itu tidak butuh biaya sepeserpun, tapi nilainya jauh lebih mahal dari barang termahal yang kamu jual.
2. Mengurangi Takaran Diam-Diam
Awal mulai usaha takaran pas sekali, barang penuh, kualitas terjamin. Lama-lama merasa untungnya kurang, harga bahan naik sedikit saja, lalu diam-diam mengurangi demi sedikit demi sedikit. Kurangi isinya, kurangi beratnya, perbesar gelas tapi isinya sama, atau ganti bahan dengan yang lebih murah kualitasnya tanpa memberi tahu pembeli. Berpikir orang tidak akan menyadari hal sekecil itu.
Padahal orang itu peka rasanya, beratnya, dan isinya. Mereka sudah biasa membandingkan dengan tempat lain, atau sudah hafal apa yang biasanya mereka dapatkan. Sekali mereka menyadari ada yang berubah, rasa percaya itu hilang seketika. Orang merasa ditipu, dan perasaan itu sulit hilang. Kepercayaan yang dibangun berbulan-bulan bisa hancur hanya dalam sekejap, dan susah sekali untuk dikembalikan lagi.
Lebih baik naik harga sedikit dengan jujur daripada mengurangi takaran diam-diam. Orang lebih bisa mengerti kenaikan harga yang jelas, daripada merasa ditipu diam-diam.
3. Rasa Dan Kualitas Berubah-Ubah Tiap Hari
Hari ini rasanya enak sekali, pas sekali. Besok malah tawar tidak ada rasa. Lusa terlalu asin atau terlalu manis. Kadang barangnya bagus, kadang jelek, tanpa ada peringatan apa-apa. Kadang segar, kadang sudah agak lama. Alasannya bermacam-macam: hari ini sedang capek, hari ini bahannya beda, hari ini dibantu orang lain, atau sekadar lupa takaran.
Orang datang ke tempatmu bukan sekadar beli barang, tapi karena mereka tahu pasti apa yang akan mereka dapatkan. Mereka ingin kepastian. Kalau berubah-ubah setiap hari, mereka jadi tidak berani lagi berharap. Hari ini beruntung dapat yang enak, besok belum tentu. Lama-lama mereka akan berpikir: "Daripada ambil risiko, mending cari tempat lain yang sudah pasti".
Konsistensi inilah pembeda antara pedagang yang sekejap terkenal lalu hilang, dengan pedagang yang bisa bertahan puluhan tahun.
4. Suka Mengeluh Atau Wajah Selalu Masam
Banyak pedagang melayani seolah-olah orang yang datang itu menyusahkan mereka. Wajah masam sepanjang hari, suka mengeluh capek, mengeluh sepi, mengeluh harga bahan mahal, atau berbicara kasar tanpa sadar. Seolah-olah orang yang berhenti membeli adalah beban bagi mereka.
Padahal orang mencari barang bukan untuk menambah beban pikiran mereka sendiri. Mereka akan lebih memilih beli di tempat lain yang harganya sama saja tapi suasananya membuat hati tenang dan nyaman. Seringkali orang rela membayar sedikit lebih mahal hanya untuk dilayani dengan sikap yang enak.
Padahal hanya dengan senyum tulus dan sapaan ramah saja sudah bisa membuatmu beda jauh dari pesaing. Mengeluh tidak akan menambah uang sepeserpun, tapi malah mengusir pelanggan satu per satu.
5. Tidak Mau Mengakui Kesalahan
Kalau ada yang kurang pas, salah hitung, salah barang, atau ada keluhan dari pembeli, bukannya minta maaf dan memperbaikinya malah marah-marah, menyalahkan pembeli, mencari ribuan dalih, atau menyangkal hal yang sudah jelas terlihat. Merasa mengakui kesalahan itu akan membuat dirinya terlihat rendah atau rugi.
Padahal tidak ada manusia yang tidak pernah salah. Orang justru akan lebih menghargai kalau kita berani mengakui dengan tenang dan memperbaikinya dengan baik. Sebaliknya, sikap menutupi kesalahan hanya akan membuat orang tahu kalau kamu tidak bisa dipercaya.
Banyak kasus orang yang awalnya marah besar, akhirnya jadi pelanggan paling setia hanya karena cara menangani kesalahan yang jujur dan baik. Tapi banyak juga kasus kesalahan kecil, berubah jadi permusuhan dan berita buruk menyebar luas hanya karena sikap yang salah.
6. Selalu Ikut Turun Harga Tanpa Hitungan
Begitu melihat ada yang jual lebih murah sedikit saja, langsung panik dan ikut menurunkan harga tanpa menghitung dulu apakah masih ada untungnya atau tidak. Akhirnya untung nyaris tidak ada, bahkan sampai rugi. Lama kelamaan terpaksa menurunkan kualitas barang, mengurangi takaran, atau mencari cara lain untuk menutupi kekurangan. Akibatnya dagangan jadi makin tidak menarik, dan pembeli pun perlahan pergi.
Jadikan harga wajar dan jaga kualitas tetap terjaga, jangan selalu berebut harga terendah. Banyak orang sebenarnya rela membayar sedikit lebih mahal asalkan barang terjamin, takaran pas, dan mereka nyaman berbelanja. Kalau kamu hanya bersaing di harga, maka kamu akan kalah oleh siapa saja yang mau menjual lebih murah lagi darimu.
7. Menganggap Pembeli Tahu Sendiri
Banyak pedagang diam saja menunggu di tempat, tidak mau menyapa yang lewat, tidak mau menjelaskan barangnya, seolah-olah orang harus tahu sendiri kalau kamu sedang berjualan. Merasa "barang bagus pasti akan laku sendiri", padahal zaman sekarang orang punya banyak sekali pilihan. Kalau kamu tidak mau menyapa, menawarkan dengan sopan, atau menjelaskan kelebihan barangmu, jangan harap mereka akan berhenti dan memilih barang yang kamu jual.
Orang yang lewat tidak bisa membaca pikiranmu. Kadang mereka sebenarnya butuh barangmu, tapi ragu berhenti karena kamu diam saja terlihat tidak ramah. Sapaan sopan dan penjelasan sederhana seringkali menjadi awal transaksi yang baik.
Hal Lain Yang Sering Diabaikan
Selain tujuh hal di atas, masih ada kebiasaan kecil lain yang perlahan membuat pembeli pergi:
- Tempat yang berantakan dan kotor, membuat orang ragu mengambil barang apalagi makanan
- Sering melayani sambil main HP, sehingga orang merasa tidak dihargai
- Tidak pernah mau memberi sedikit kelebihan atau pelayanan lebih, selalu hitung sampai uang receh terkecil
- Sering membicarakan keburukan pedagang lain, sehingga orang ragu apa nanti dibicarakan juga kepada orang lain
- Tidak menepati janji, misalnya bilang barang siap jam 3, tapi jam 4 belum ada
Hal Penting Yang Harus Diingat
- Nama baik itu butuh waktu lama dibangun, tapi bisa hilang dalam sekejap mata. Sekali nama buruk terlanjur menyebar, sangat sulit untuk memperbaikinya kembali
- Lebih baik sedikit pelanggan yang setia dan menyebarkan kabar baik, daripada banyak yang datang cuma sekali saja lalu pergi membawa cerita buruk
- Perbaiki satu kesalahan kecil hari ini, lama-lama perubahan besar akan terlihat. Tidak perlu mengubah semuanya sekaligus, mulai dari yang paling mudah saja
- Jangan iri melihat orang lain ramai sekejap karena harga murah. Lihatlah siapa yang bisa bertahan sampai bertahun-tahun lamanya
- Ingat, pembeli bukan sekadar sumber uang, tapi manusia biasa yang punya perasaan sama sepertimu. Perlakukan mereka sebagaimana kamu ingin diperlakukan saat kamu berbelanja
Kesimpulan
kegagalan dalam berdagang jarang datang dari hal yang besar. Hampir semuanya bermula dari hal-hal sepele yang terus dibiarkan, hari demi hari, bulan demi bulan. Perbaiki kesalahan-kesalahan di atas, lakukan dengan tekun, jujur, dan hati yang tulus, lama-lama orang akan melihat perbedaannya sendiri. Tanpa kamu sadar, mereka akan datang berbondong-bondong, bahkan rela berjalan lebih jauh hanya untuk mampir ke tempatmu.

Posting Komentar