Kesalahan Hitung Modal Yang Bikin Rugi Diam-Diam

Daftar Isi
Tangan pedagang sedang mencatat pengeluaran dan pemasukan di buku tulis sederhana di atas meja lapak dagangan, menggambarkan pentingnya menghitung modal dengan benar agar tidak rugi tanpa disadari.

Kebanyakan orang yang baru mulai berdagang berpikir menghitung modal itu sangat sederhana. Kalau beli barang seribu, jual dua ribu, berarti untung seribu — begitu kira-kira pikirannya. Padahal di sinilah letak perangkap yang paling sering menelan pedagang pemula, dan bahkan yang sudah lama berdagang pun kadang masih terjebak di dalamnya. Semua merasa sudah untung, uang di tangan terasa bertambah, tapi di akhir bulan entah ke mana perginya. Tidak ada yang bisa ditunjukkan sebagai hasilnya, dan lama-lama justru merasa semakin berat saja melanjutkannya. Bukan karena barangnya tidak laku, bukan karena pembelinya sepi — tapi karena dari awal cara menghitungnya sudah salah. Dan kesalahan ini berjalan diam-diam, tidak terlihat setiap hari, sampai akhirnya terasa berat baru disadari bahwa sebenarnya selama ini tidak pernah benar-benar untung.

1. Harga Beli Barang Saja Dianggap Satu-Satunya Modal

Ini adalah kesalahan yang paling sering dilakukan. Ketika membeli barang dagangan, yang dicatat dan diingat cuma harga barangnya saja. Padahal untuk membawa barang itu sampai ke lapak dan sampai ke tangan pembeli, pasti ada biaya lain yang harus dikeluarkan. Biaya naik kendaraan untuk membelinya, biaya bensin, biaya makan saat pergi belanja barang, biaya kemasan, bahkan waktu yang dipakai untuk pergi dan pulang pun sebenarnya ada harganya. Semua itu kalau dijumlahkan setiap hari bisa menjadi angka yang lumayan besar. Tapi karena tidak dicatat dan tidak dimasukkan ke dalam harga jual, maka setiap barang yang terjual sebenarnya sudah mengurangi uang pribadimu tanpa kamu sadari. Lama-lama kamu merasa untung, padahal yang terjadi hanyalah uangmu sendiri yang berputar dan perlahan berkurang sedikit demi sedikit setiap harinya. 

2. Barang Sisa Dianggap Sebagai Uang Yang Masih Ada

Di akhir hari atau akhir minggu, sering kali kita melihat barang yang belum terjual lalu merasa bahwa itu sama nilainya dengan uang tunai yang kita pegang. Padahal barang yang belum terjual itu belum tentu bisa kembali menjadi uang dengan harga yang sama. Ada yang sudah tidak segar, ada yang kemasannya sudah sedikit rusak, ada pula yang harus dijual lebih murah karena sudah lama tersimpan. Kalau kamu menghitung kekayaanmu dengan harga beli barang yang masih tersimpan, sebenarnya kamu sedang menaksir terlalu tinggi berapa yang sebenarnya kamu miliki. Uang yang sudah berubah menjadi barang belum tentu kembali menjadi uang utuh. Dan kalau kamu menjadikan perkiraan itu sebagai dasar untuk mengambil keuntungan, maka kamu sudah mengambil uang yang sebenarnya belum ada dan belum menjadi milikmu.

3. Tidak Menghitung Uang Sendiri Yang Dipakai Sehari-Hari

Banyak pedagang yang mencampuradukkan uang dagangan dengan uang kebutuhan pribadi. Saat butuh beli makan, beli keperluan rumah, atau beli sesuatu yang diinginkan, langsung ambil dari hasil penjualan hari itu. Alasannya itu kan uang hasil kerjanya, bebas dipakai apa saja. Padahal belum tentu semua uang yang ada di tangan itu adalah hasil keuntungan. Sebagian besar dari itu adalah uang modal yang harus kembali dipakai untuk membeli barang besok paginya. Kalau setiap hari kamu ambil dulu untuk kebutuhan pribadi sebelum menyisihkan modalnya, maka lama-lama modal belanja barang akan semakin kecil. Barang yang dibeli makin sedikit, pilihannya makin terbatas, dan pembeli pun perlahan-lahan makin berkurang. Masalahnya tidak terlihat dalam sehari dua hari. Baru setelah beberapa bulan terasa barangnya makin sedikit dan uangnya makin sulit berputar, baru disadari bahwa selama ini modalnya perlahan-lahan sudah terpakai untuk hal lain.

4. Menganggap Waktu Dan Tenaga Itu Gratis

Ini adalah kesalahan yang paling sering tidak disadari sama sekali. Karena kita bekerja sendiri, maka waktu yang dipakai untuk menyiapkan barang, berangkat berjualan, menunggu pembeli sampai pulang lagi dianggap bukan biaya apa-apa. Padahal kalau kamu tidak berdagang dan bekerja di tempat lain, waktu yang sama pasti akan menghasilkan uang untukmu. Jadi setiap jam yang kamu pakai untuk berdagang itu sebenarnya punya nilai tersendiri. Kalau dalam sehari bekerja delapan jam dan hasil yang tersisa setelah beli barang hanya cukup untuk makan sehari, maka sebenarnya kamu sedang bekerja dengan bayaran yang jauh di bawah upah yang wajar. Kamu tidak merugi secara uang tunai, tapi kamu merugi secara waktu dan tenaga yang tidak akan pernah bisa kembali. Dan hal ini baru terasa setelah bertahun-tahun berlalu dan kamu menyadari bahwa selama ini kamu sudah bekerja sangat keras namun tidak pernah benar-benar maju ke mana-mana.

5. Meniru Harga Orang Lain Tanpa Tahu Apakah Cocok Dengan Biaya Sendiri

Melihat barang yang sama dijual tetangga dengan harga tertentu, lalu langsung menjual dengan harga yang sama persis tanpa menghitung dulu apakah biayamu sama dengan biayanya. Padahal belum tentu dia membeli barang di tempat yang sama dengan harga yang sama. Belum tentu jarak yang dia tempuh dan biaya yang dia keluarkan sama dengan yang kamu keluarkan. Bisa saja dia membeli dalam jumlah besar sehingga harganya lebih murah, atau dia memang menanggung biaya yang lebih kecil darimu. Kalau kamu ikut harga dia tanpa tahu berapa sebenarnya yang harus kamu keluarkan, maka setiap barang yang terjual bisa saja hanya cukup untuk menutupi biayanya saja, bahkan ada yang ternyata kurang sedikit dan kamu tidak menyadarinya. Lama-lama karena barangnya terlihat laku, kamu makin yakin sudah untung, padahal sebenarnya setiap penjualan justru mengurangi sedikit uang sakumu sendiri.

Kesimpulan

Kesalahan menghitung modal itu tidak terlihat dengan jelas di setiap hari. Tidak ada tanda peringatan, tidak ada yang memberitahu kalau hari ini kamu sudah kurang menghitung berapa yang dikeluarkan. Semuanya terlihat baik-baik saja, barang terjual, uang masuk, dan tangan terasa ada isinya. Tapi karena setiap hari kekurangannya sedikit saja, maka butuh waktu lama baru terasa bahwa uangnya tidak pernah bertambah dan tidak pernah bisa dikumpulkan menjadi sesuatu yang lebih besar. Bukan berarti kamu tidak berbakat berdagang, bukan berarti barangmu tidak disukai orang. Kemungkinan besar sejak awal saja cara kamu melihat uang masuk dan keluar itu belum lengkap. Mulai sekarang tidak perlu rumit, cukup pastikan setiap kali kamu menjual sesuatu, kamu sudah tahu dengan pasti berapa sebenarnya yang sudah kamu keluarkan untuk mendapatkannya — termasuk hal-hal kecil yang selama ini kamu anggap tidak berarti. Karena dari situlah kerugian diam-diam itu selalu bermula.

Posting Komentar