Hal Yang Tidak Boleh Dilakukan Saat Omzet Sedang Naik Cepat
Setiap orang yang berdagang pasti mendambakan momen ini. Hari-hari yang biasanya sepi tiba-tiba mulai ramai, barang yang biasanya habis dalam tiga hari sekarang ludes dalam satu hari, dan uang yang masuk ke kantong terasa jauh lebih banyak dari biasanya. Saat omzet naik cepat seperti ini, siapa pun pasti merasa senang, bangga, dan seolah segala sesuatu sudah berjalan dengan sempurna. Namun justru di saat-saat inilah paling banyak pedagang melakukan kesalahan yang tidak akan terlihat dampaknya hari itu juga, tapi beberapa bulan kemudian bisa membuat usaha yang sedang tumbuh itu justru terancam terhenti atau bahkan mundur.
Bukan berarti kesuksesan itu berbahaya, tapi kondisi sukses yang datang tiba-tiba sering membuat kita lupa berhati-hati. Apa yang kemarin masih mustahil untuk dibeli hari ini terasa sangat mudah, dan batasan-batasan yang kemarin masih kita pegang dengan teguh, perlahan mulai terasa terlalu ketat. Berikut hal-hal yang sebaiknya tidak pernah kamu lakukan, tepat di saat omzetmu sedang naik paling cepat.
1. Jangan langsung menaikkan gaya hidup dan pengeluaran pribadi
Ini kesalahan nomor satu yang paling sering terjadi. Begitu uang terasa banyak masuk, kamu mulai berpikir setiap hari sudah bisa membeli makanan yang lebih mahal, pulang naik kendaraan yang lebih boros, atau membeli barang-barang yang sebenarnya belum mendesak dibutuhkan. Padahal omzet naik belum tentu berarti untung naik sebesar itu. Bisa saja penjualan naik karena harga barang ikut naik, atau karena kamu menjual lebih banyak barang yang untungnya sebenarnya kecil. Dan yang paling penting, omzet yang naik cepat belum tentu akan bertahan selamanya. Bisa saja ini musim yang sedang berjalan, atau kebetulan beberapa pembeli besar datang berbarengan. Kalau pengeluaran pribadimu sudah ikut naik dan ternyata penjualan kembali turun seperti semula, kamu akan terjebak. Kamu akan merasa seolah-olah usahamu sedang merugi, padahal sebenarnya hanya kembali ke keadaan semula. Biarkan usahamu tumbuh dulu dan terbukti stabil selama beberapa bulan, baru kemudian ambil sebagian kecil keuntungannya untuk memperbaiki keadaanmu sedikit demi sedikit. Jangan sekali-kali menghabiskan semua yang masuk dengan alasan nanti akan ada lagi yang masuk.
2. Jangan membeli barang secara berlebihan hanya karena semuanya terasa laku
Saat beberapa kali berturut-turut barang yang kamu beli langsung habis, perasaan percaya diri akan tumbuh sangat besar. Kamu mulai berpikir apa pun yang kamu beli pasti akan terjual, dan kalau kamu beli dalam jumlah besar, untungnya pun akan berlipat ganda. Di sinilah perangkapnya. Barang yang sedang laku hari ini belum tentu masih sama laku bulan depan. Bisa saja orang sedang butuh sekali barang itu sekarang, dan begitu semua orang sudah membelinya, permintaannya akan turun drastis. Kalau kamu sudah menanam seluruh uangmu di barang yang sama dalam jumlah besar, saat orang berhenti membelinya, uangmu akan tertahan di tumpukan barang yang menumpuk dan tidak terjual. Lebih baik beli dalam jumlah yang cukup untuk dua atau tiga minggu ke depan, biarkan yang lama habis dulu, baru tambah lagi. Kalau ternyata memang terus laku, kamu tidak akan rugi karena menunggu sedikit. Tapi kalau ternyata berubah, kamu tidak akan tertahan dengan barang yang tidak bisa dipakai sendiri dan tidak bisa dijual kembali.
3. Jangan melupakan barang-barang yang dulu menjadi fondasi usahamu
Saat ada barang baru yang sedang laku dan untungnya terlihat besar, sangat mudah untuk menaruh semua perhatian dan uangmu di barang itu saja. Barang yang dari dulu kecil untungnya tapi setiap hari pasti laku, perlahan mulai dikesampingkan. Kamu pikir daripada menyiapkan barang yang untungnya sedikit, lebih baik fokus saja ke barang yang sekali jual langsung banyak untungnya. Padahal barang yang untungnya kecil tapi pasti itulah yang menjaga usahamu tetap berjalan setiap hari. Barang yang sedang naik cepat itu bisa saja turun secepat ia naik. Kalau saat itu terjadi kamu sudah tidak lagi menjual barang-barang andalanmu yang lama, kamu akan merasa seolah-olah usahamu tiba-tiba runtuh, padahal sebenarnya hanya barang barunya yang sedang sepi. Jangan pernah menelantarkan barang yang sudah lama membangun kepercayaan pelanggan kepadamu. Barang itu tetap harus ada, tersedia, dan terawat, sekecil apa pun untungnya. Karena itulah yang akan tetap ada saat barang yang sedang naik itu perlahan turun kembali.
4. Jangan melonggarkan syarat pembayaran dan memberi utang terlalu mudah
Saat orang melihat usahamu sedang ramai, banyak teman dan pelanggan yang lama akan datang meminta tolong untuk dibolehkan mengambil barang dulu dan membayar nanti. Dan karena kamu merasa uang terus masuk setiap hari, kamu pun merasa percaya dan tidak ragu untuk mengizinkannya. Kamu berpikir paling lama seminggu pasti lunas, dan selama itu barangnya tetap berputar. Tapi kenyataannya begitu barang sudah di tangan orang lain, janji membayar sering kali mundur pelan-pelan. Satu orang menunda, lalu dua, lalu lebih banyak lagi, dan sebelum kamu menyadarinya, uang yang seharusnya ada di kas untuk membeli stok baru ternyata sudah tersebar di puluhan orang yang belum membayar. Padahal kamu tetap harus membayar pemasok dan tetap harus membeli barang baru setiap hari. Jangan pernah memberi utang hanya karena kamu sedang merasa cukup dan percaya diri. Aturan pembayaran yang kamu pegang saat masih sepi, harus tetap sama persis saat sedang paling ramai. Kalau memang harus diberi utang, batasi jumlahnya dan pastikan kamu tetap punya cukup uang tunai untuk berputar tanpa menunggu siapa pun membayar.
5. Jangan menambah tenaga kerja atau biaya tetap sebelum yakin pendapatannya stabil
Saat setiap hari sibuk sekali dan kamu sendiri merasa kelelahan, keinginan untuk meminta bantuan orang lain akan terasa sangat mendesak. Dan karena uang yang masuk terlihat banyak, kamu berpikir gaji orang lain itu pasti mampu dipenuhi setiap bulan tanpa kekurangan. Tapi ingat, gaji adalah biaya yang harus dikeluarkan setiap bulan, entah bulan itu ramai atau sepi. Begitu kamu menyetujui untuk menggaji seseorang, itu menjadi kewajiban yang tidak bisa dihilangkan begitu saja. Kalau ternyata tiga bulan kemudian penjualan kembali seperti biasa, kamu justru akan merasa terbebani karena harus mencari uang untuk membayar orang lain sementara pendapatmu sendiri sudah berkurang. Lebih baik cari cara yang lebih sederhana dulu, seperti menata barang lebih rapi supaya tidak terlalu banyak bergerak, atau meminta bantuan keluarga yang memang sudah ada di rumah. Tunggu sampai omzet naik secara stabil selama enam bulan atau lebih, dan kamu sudah melihat sendiri bahwa angka itu bukan kebetulan, baru pikirkan kembali untuk menambah orang lain.
6. Jangan berhenti mencatat dan menghitung dengan teliti
Saat sepi dan waktu banyak, biasanya kita rajin mencatat setiap pengeluaran dan setiap barang yang masuk dan keluar. Tapi begitu ramai dan tangan sibuk terus-menerus, banyak hal mulai dikerjakan dengan perkiraan saja. Kamu berpikir hari ini pasti untungnya sekian, karena barang yang terjual banyak sekali. Padahal di saat yang sibuk itulah sering kali terjadi kebocoran yang tidak terlihat. Harga beli naik sedikit dan kamu lupa menaikkan harga jualnya, atau barang rusak dan hilang tanpa kamu sadari, atau kembalian yang terburu-buru diberikan kurang tepat. Karena jumlahnya besar, selisih kecil itu tersembunyi dan tidak terasa. Tapi kalau dibiarkan berbulan-bulan, jumlahnya bisa sangat besar. Jangan pernah berhenti mencatat hanya karena sibuk. Justru saat paling sibuk itulah catatan menjadi paling penting, karena di sanalah kamu akan melihat dengan mata kepala sendiri apakah yang terlihat besar itu benar-benar tetap ada atau perlahan-lahan menyusut tanpa kamu ketahui.
Kesimpulan
Momen saat omzet naik cepat sebenarnya bukan waktu untuk bersenang-senang dan merasa sudah berhasil. Itu justru waktu yang paling menentukan apakah usahamu akan tumbuh menjadi lebih besar atau hanya akan terlihat besar sebentar lalu kembali ke keadaan semula atau bahkan lebih buruk lagi. Kekayaan yang datang tiba-tiba memang bisa membuat siapa pun merasa berubah, tapi pedagang yang bertahan lama adalah orang yang tetap sama dirinya saat sedang di puncak seperti saat ia masih di bawah. Jangan ubah gaya hidupmu dulu, jangan berani mengambil risiko besar hanya karena merasa sedang beruntung, jangan tinggalkan apa yang sudah membawamu sampai ke titik ini, dan jangan pernah berhenti melihat angka sebenarnya di atas kertas. Kalau kamu bisa melakukan hal-hal ini di saat-saat terbaikmu, maka saat-saat yang kurang baik pun nantinya tidak akan mampu menjatuhkanmu.

Posting Komentar