Hal Yang Harus Disiapkan Sebelum Menambah Jenis Barang Baru

Daftar Isi

Pedagang sedang menyusun dan menata barang baru di tempat dagang dengan hati-hati, memastikan setiap barang terlihat jelas dan mudah dilihat pelanggan sebelum menambah jenis barang yang dijual

Banyak pedagang yang sudah lumayan lama berjualan, omzetnya terlihat naik, pelanggannya juga makin banyak, lalu muncul keinginan untuk menambah barang baru. Terlihat sederhana saja, tinggal cari barang lain yang kira-kira laku, beli sedikit, lalu pajang bersama yang lama. Padahal kalau dilakukan tanpa persiapan yang benar, langkah yang seharusnya menambah untung justru bisa membuat semuanya menjadi berantakan. Uang yang seharusnya berputar jadi tertahan di barang yang tidak laku, pelanggan yang biasa datang jadi bingung melihat barang yang makin banyak dan tidak teratur, dan waktu yang seharusnya dipakai melayani malah habis untuk memikirkan barang yang baru saja dibeli tapi tidak kunjung terjual.

Menambah jenis barang baru sebenarnya bukan hanya soal punya modal untuk membelinya. Ada banyak hal lain yang jauh lebih penting dan harus dipastikan terlebih dahulu sebelum uang dikeluarkan. Berikut hal-hal yang sebaiknya kamu siapkan dan periksa satu per satu.

1. Pastikan dulu barang lama kamu sudah berjalan dengan benar

Jangan pernah menambah yang baru kalau yang lama saja belum stabil. Maksudnya begini, kamu sudah tahu pasti berapa banyak yang terjual setiap hari, kamu tahu kapan harus beli lagi supaya tidak kehabisan, dan pelanggan sudah tahu barang apa saja yang kamu jual secara rutin. Kalau yang lama saja masih sering kehabisan tanpa jadwal yang jelas, atau masih ada sisa yang menumpuk karena salah memperkirakan jumlah, menambah barang baru hanya akan membuat kamu makin sulit mengawasi semuanya. Barang lama harus sudah seperti mesin yang berjalan sendiri, kamu tahu kapan masuk dan kapan habis, baru kemudian pikirkan untuk menambah yang lain.

2. Cari tahu dari mana asal keinginan menambah barang itu 

Apakah karena pelangganmu sendiri yang sering bertanya apakah kamu punya barang itu juga, atau hanya karena kamu melihat orang lain menjualnya dan terlihat laku? Dua hal ini sangat berbeda. Kalau pelangganmu sendiri yang bertanya berarti permintaannya sudah ada dan orang yang sudah percaya kepadamu itulah yang akan membelinya. Sebaliknya kalau hanya melihat orang lain laku belum tentu pelangganmu juga membutuhkannya. Bisa saja orang itu berjualan di tempat yang berbeda, dengan pembeli yang berbeda pula. Lebih baik mulai dari apa yang sudah dibuktikan oleh orang yang datang kepadamu setiap hari, daripada menebak-nebak apa yang mungkin disukai orang yang belum tentu datang.

3. Hitung ruang yang tersedia sebelum membeli satu bungkus pun

Ini hal yang paling sering dilupakan. Barang lama saja sudah menempatkan hampir semua tempat yang kamu punya, lalu begitu barang baru datang kamu bingung mau meletakkannya di mana. Akibatnya barang baru ditaruh sembarangan, tersembunyi di bawah atau di belakang, dan akhirnya tidak ada yang tahu kalau kamu sekarang sudah menjualnya. Pelanggan pun tidak akan bertanya kalau mereka tidak melihatnya. Sebelum membeli, bayangkan dulu di mana tepatnya barang itu akan diletakkan. Kalau tidak ada tempat yang jelas dan mudah dilihat, sebaiknya tunda dulu sampai ada ruang yang cukup. Lebih baik sedikit barang tapi terlihat jelas dan mudah diambil, daripada banyak barang tapi bertumpuk dan tidak terlihat sama sekali.

4. Periksa berapa banyak uang yang akan tertahan

Barang baru tidak langsung laku begitu dipajang. Perlu waktu sampai pelanggan tahu kamu sekarang menjualnya, sampai mereka mencoba, dan sampai mereka percaya kualitasnya. Selama waktu itu uangmu sudah terpasang di sana dan belum bisa dipakai untuk membeli barang lain yang sudah pasti laku. Pastikan uang yang dipakai untuk barang baru itu adalah uang yang memang tersisa setelah semua kebutuhan utama terpenuhi dan barang lama sudah cukup stoknya. Jangan sampai uang yang seharusnya dipakai untuk menambah stok barang yang pasti laku justru dipakai untuk mencoba barang yang belum jelas hasilnya. Kalau nanti ternyata barang baru itu butuh waktu lama untuk laku, kamu tidak akan terganggu karena barang utamamu tetap berjalan lancar seperti biasa.

5. Pikirkan bagaimana barang baru itu berhubungan dengan barang yang sudah ada

Barang yang saling berkaitan selalu lebih mudah terjual. Kalau kamu sudah menjual nasi, lauk pauk adalah barang baru yang sangat masuk akal. Kalau kamu menjual sayur, bumbu dapur adalah hal yang wajar ditambahkan. Orang yang membeli satu barang akan sangat sering membutuhkan barang yang lain juga. Sebaliknya kalau barang barumu sama sekali tidak ada hubungannya dengan yang lama, pelanggan butuh waktu lebih lama untuk memahami bahwa itu memang dijual di tempatmu juga. Mereka datang dengan tujuan tertentu dan kalau barang barumu berada di luar kebiasaan mereka, mereka mungkin tidak akan terpikir untuk membelinya meskipun sebenarnya mereka butuh.

6. Siapkan juga pengetahuan tentang barang baru itu

Kamu tidak perlu menjadi ahli, tapi setidaknya kamu harus tahu apa bedanya dengan barang sejenis di tempat lain, bagaimana cara menyimpannya supaya tidak rusak, dan siapa saja yang biasanya paling banyak membutuhkannya. Pelanggan pasti akan bertanya. Kalau kamu hanya menjawab tidak tahu atau terlihat ragu saat menjelaskan, mereka akan ragu juga untuk membelinya. Semakin kamu paham barang yang kamu jual, semakin mudah kamu menjelaskan kelebihannya tanpa harus terlihat seperti sedang memaksa. Ini juga butuh waktu untuk dipelajari, jadi jangan menunggu barangnya sudah datang baru mulai mencari tahu. Pelajari sedikit demi sedikit jauh hari sebelumnya, sehingga begitu barangnya datang kamu sudah siap menjawab apa saja yang ditanyakan.

7. Mulai dengan jumlah yang sedikit dulu

Banyak orang begitu yakin dengan barang barunya, langsung beli dalam jumlah banyak dengan harapan untungnya juga besar. Padahal belum tentu orang akan menerima secepat yang kamu bayangkan. Mulailah dengan jumlah paling sedikit yang bisa kamu beli. Biarkan barang itu diperkenalkan dulu, lihat berapa lama sampai yang pertama terjual, dan lihat apakah ada orang yang kembali lagi untuk membelinya. Kalau dalam waktu singkat barang itu habis dan banyak yang bertanya kapan masuk lagi, baru kamu berani menambah jumlahnya. Dengan cara ini risikonya sangat kecil, dan kalau ternyata tidak sesuai harapan, kerugiannya pun tidak akan terasa berat.

Kesimpulan

Menambah jenis barang baru memang bisa menjadi langkah yang sangat baik untuk mengembangkan usaha, asal dilakukan pada waktu yang tepat dan dengan persiapan yang cukup. Bukan berarti semakin cepat menambah semakin bagus. Kadang menunggu sedikit lebih lama justru jauh lebih menguntungkan, karena kamu sudah yakin benar sebelum mengeluarkan uang. Pastikan barang lamamu sudah kokoh dulu, cari tahu dari mana keinginan itu berasal, pastikan tempatnya ada, uangnya tersisa, barangnya saling mendukung, pengetahuannya cukup, dan mulailah perlahan. Kalau tujuh hal ini sudah siap, kemungkinan berhasilnya akan jauh lebih besar, dan kamu tidak akan menyesal setelah uangnya sudah terlanjur dikeluarkan.

Posting Komentar