Cara Pilih Lokasi Dagang Yang Sepintas Terlihat Sepi Tapi Sebenarnya Laris
Pertama kali orang melihat sebuah tempat, biasanya langsung menilai dari seberapa ramai orang yang lewat di depannya. Kalau di depan banyak orang berjalan lalu lalang, langsung merasa ini tempat yang bagus. Kalau terlihat agak kosong dan tidak terlalu banyak yang lewat, langsung berpikir pasti tidak akan laku di sana. Padahal sering kali yang terlihat ramai itu sebenarnya cuma orang lewat yang terburu-buru, bukan orang yang berniat berhenti dan membeli. Dan sebaliknya, ada tempat yang terlihat tenang dan tidak terlalu sibuk, tapi orang yang datang ke sana memang memang sedang mencari barang seperti yang kamu jual. Bedanya cuma di mata orang yang melihatnya saja. Kalau kamu tahu apa yang harus diperhatikan selain sekadar jumlah orang yang lewat, kamu bisa menemukan tempat yang biayanya murah tapi pembelinya justru datang dengan sengaja, bukan sekadar kebetulan lewat.
1. Lihat Siapa Yang Tinggal Dan Bekerja Di Sekitar Sana, Bukan Berapa Banyak Yang Lewat
Banyak orang menghitung tempat yang bagus dengan berapa banyak kaki yang melangkah di depan lapak dalam satu jam. Padahal orang yang berjalan cepat sambil melihat jam atau sibuk berbicara di telepon hampir tidak akan pernah berhenti membeli apa pun. Yang kamu butuhkan bukan jumlah orang terbanyak, tapi orang yang memang butuh barangmu dan punya waktu untuk berhenti. Coba perhatikan baik-baik. Di sana banyak rumah warga? Ada kantor atau sekolah di dekatnya? Ada bengkel atau tempat orang bekerja? Kalau ada, meskipun di jalan utamanya tidak terlalu padat, setiap hari pasti ada orang yang pulang pergi dan butuh sesuatu untuk dimakan atau dipakai. Mereka tidak lewat karena kebetulan, mereka lewat setiap hari karena memang tinggal atau bekerja di situ. Dan orang yang lewat setiap hari itulah yang nantinya menjadi pembeli tetapmu.
2. Perhatikan Apakah Orang Sering Berhenti Di Tempat Itu Meski Tidak Ada Yang Jual Di Sana Sekarang
Ini tanda yang paling jujur dan paling jarang orang perhatikan. Kalau kamu berdiri di tempat yang terlihat sepi itu dan melihat orang-orang yang datang ke sana — apakah mereka berhenti sebentar? Apakah mereka menunggu seseorang? Apakah mereka duduk sebentar sebelum melanjutkan perjalanan? Kalau ya, maka tempat itu sebenarnya sudah punya daya tarik tersendiri yang belum terpakai. Orang sudah terbiasa berhenti di situ, mereka sudah merasa nyaman berada di sana. Begitu ada barang yang ditawarkan dengan baik dan tepat, mereka akan berhenti tanpa perlu dipaksa. Sebaliknya, di jalan yang sangat ramai orangnya terus berjalan tanpa pernah menoleh sekalipun. Tempat seperti itu terlihat sibuk, tapi sebenarnya tidak ada yang pernah benar-benar berhenti di sana.
3. Cek Barang Apa Saja Yang Sudah Laku Di Sekitar Itu, Bukan Yang Belum Ada Sama Sekali
Banyak yang berpikir tempat terbaik adalah yang belum ada orang yang menjual barang serupa. "Di sini belum ada yang jual ini, pasti saya yang laku duluan." Padahal kalau di radius yang cukup dekat belum ada sama sekali, bisa jadi alasannya bukan karena belum ada yang pintar seperti kamu, tapi karena memang orang-orang di sana belum terbiasa membeli barang jenis itu. Lebih baik cari tempat yang sudah ada satu atau dua orang yang menjual barang yang sejenis dengan milikmu, tapi belum ada yang melakukannya dengan benar atau dengan kualitas yang baik. Kehadiran mereka sebenarnya sudah membantu kamu — mereka sudah memperkenalkan barang itu kepada orang-orang di sana, dan orang-orang sudah tahu untuk apa barang itu dipakai. Tugasmu tinggal memberikan pilihan yang lebih baik atau lebih lengkap, dan orang yang sudah mencari barang itu akan segera menemukanmu.
4. Perhatikan Di Sisi Jalan Mana Orang Lebih Sering Berjalan Dan Berhenti
Sering kali orang memilih sisi jalan yang terlihat lebih luas atau lebih terang, padahal pembelinya justru ada di sisi seberang. Coba amati selama beberapa jam di waktu yang berbeda — pagi saat berangkat kerja, siang saat istirahat, dan sore saat pulang. Di sisi mana orang lebih banyak berjalan santai dan lebih sering menoleh ke samping? Di sisi mana trotoarnya lebih lebar atau lebih aman untuk berhenti sebentar tanpa takut terganggu kendaraan? Kadang selisihnya cuma di seberang jalan saja, tapi hasilnya bisa sangat berbeda. Tempat yang terlihat kurang strategis sebenarnya bisa jadi jauh lebih baik asal kamu berdiri di sisi yang benar dan arah yang tepat dengan alur pergerakan orangnya.
5. Lihat Kapan Waktu Mereka Datang, Bukan Apakah Mereka Datang Terus-Menerus Sepanjang Hari
Ada lokasi yang terlihat sepi sepanjang pagi sampai siang, tapi begitu waktu tertentu tiba orangnya datang beruntun dan semuanya berniat membeli. Dekat sekolah sebelum jam masuk, dekat pasar saat pembukaan, dekat pemukiman tepat saat orang pulang kerja — di jam-jam lain tempat itu bisa terlihat kosong, tapi di jam tertentu itu saja hasilnya sudah bisa menutupi seluruh hari yang sepi. Jangan menilai tempat hanya dari sekilas pandang di waktu yang sedang kamu lewat saja. Datanglah di waktu yang berbeda dan perhatikan pola pergerakannya. Kalau di waktu-waktu tertentu orangnya datang dengan tujuan yang jelas, maka tempat itu sebenarnya sangat berharga meskipun di jam lain terlihat sepi sekali.
Kesimpulan
Memilih lokasi itu bukan soal mencari tempat yang paling ramai dan paling terlihat dari jauh. Banyak yang terlihat ramai sebenarnya cuma arus orang yang lewat tanpa pernah berhenti, dan banyak yang terlihat sepi sebenarnya adalah tempat orang-orang sengaja datang untuk mencari sesuatu. Yang membedakannya bukan jumlah orang yang lewat, melainkan apakah orang yang datang ke sana memang cocok dengan apa yang kamu tawarkan. Mengamati hal-hal kecil ini memang butuh waktu dan kesabaran, tidak secepat sekilas melihat keramaian lalu menentukan pilihan. Tapi begitu kamu menemukan tempat yang terlihat biasa saja tapi pembelinya tepat sasaran, kamu akan menyadari bahwa itu jauh lebih baik daripada tempat yang mahal dan ramai tapi tidak ada yang benar-benar berniat membeli. Dan itulah cara yang paling bijak supaya modal awalmu tidak habis hanya untuk menyewa nama yang terdengar strategis saja.

Posting Komentar