Cara Hitung Modal Yang Benar Supaya Tidak Rugi
Banyak orang berpikir menghitung modal itu cuma melihat berapa uang yang dikeluarkan untuk membeli barangnya saja. Kalau beli satu benda seribu rupiah, berarti modalnya seribu — begitu kira-kira pikirannya. Padahal kalau hanya berhenti di situ, hampir bisa dipastikan setiap kali barang itu terjual, kamu sebenarnya sudah kehilangan sedikit uang tanpa menyadarinya. Masalahnya bukan pada barangnya, bukan pada pembelinya, tapi pada angka yang kamu jadikan patokan sebagai modal itu belum lengkap. Dan kalau dasarnya saja belum benar, maka harga jual yang ditetapkan di atasnya pasti tidak akan cukup untuk menutupi semua yang sebenarnya sudah kamu keluarkan. Berikut adalah cara menghitungnya dengan benar, langkah demi langkah, tanpa rumus yang rumit dan tanpa perlu alat yang sulit dicari.
1. Catat Harga Beli Barangnya Secara Jelas
Ini memang langkah yang paling pertama dan paling mudah dipahami. Saat kamu membeli barang dagangan, catat dengan pasti berapa harga yang benar-benar dibayarkan untuk barang itu saja. Kalau beli dalam jumlah banyak lalu dapat potongan harga, pakai harga yang sebenarnya setelah dipotong itu. Jangan menaksir, jangan mengira-ngira, dan jangan membulatkan ke atas atau ke bawah dengan alasan belum tentu tepat. Tulis persis seperti yang tertera di struk atau yang benar-benar kamu serahkan ke penjualnya. Angka ini adalah dasar dari semuanya, dan kalau di awal saja sudah tidak tepat, maka semua hitungan di belakangnya pasti akan meleset sedikit demi sedikit sampai akhirnya terasa jauh sekali dari kenyataan.
2. Masukkan Semua Biaya Tambahan Sampai Barang Itu Berada Di Tanganmu
Banyak yang berhenti di harga beli barangnya saja, padahal untuk membawa barang itu sampai ke tempatmu dan siap dijual, pasti ada pengeluaran lain yang tidak boleh dilupakan. Biaya naik kendaraan untuk mengambil barang itu, biaya bensin, biaya makan saat pergi membelinya, biaya kemasan yang dipakai supaya barangnya tidak rusak, bahkan biaya untuk menyusun dan menata barangnya agar siap ditawarkan — semuanya itu adalah bagian dari modal yang sebenarnya. Kalau kamu pergi membeli barang dan mengeluarkan biaya perjalanan sepuluh ribu untuk sepuluh barang yang dibeli, maka setiap barang itu sebenarnya bertambah seribu rupiah modalnya. Kalau hal ini tidak dimasukkan ke dalam hitungan, berarti setiap barang yang terjual kamu sudah membayar biaya perjalanan itu dari uang sakumu sendiri tanpa kamu sadari.
3. Hitung Berapa Nilai Waktu Yang Dipakai Untuk Mendapatkannya
Ini adalah bagian yang paling sering dilupakan orang, padahal ini adalah salah satu hal yang paling berharga dari seluruh usahamu. Waktu yang kamu pakai untuk berangkat membeli barang, waktu di perjalanan, waktu menunggu, dan waktu menyiapkannya sampai siap dijual — semua itu bukan waktu yang gratis. Kalau kamu tidak melakukan hal itu, kamu bisa melakukan hal lain yang menghasilkan uang untukmu. Jadi wajar kalau waktu itu juga dihitung sebagai bagian dari modal. Tidak perlu rumus yang sulit. Cukup perkirakan berapa jam yang dipakai dan berapa nilai yang pantas untuk waktumu itu. Lalu jumlahkan ke dalam modal barangnya. Mungkin terlihat kecil kalau dihitung per barang, tapi kalau tidak pernah dimasukkan, lama-lama kamu akan merasa seolah-olah kamu bekerja secara cuma-cuma setiap harinya.
4. Jumlahkan Semuanya Lalu Bagi Dengan Jumlah Barangnya
Setelah kamu tahu berapa harga barangnya dan berapa total biaya tambahan serta perkiraan nilai waktunya, jumlahkan semuanya menjadi satu angka. Lalu angka itu dibagi dengan berapa banyak barang yang kamu dapatkan dari pengeluaran tersebut. Hasil pembagian itulah modal yang sebenarnya untuk satu barang. Bukan angka yang tertera di pasar saat kamu membelinya, melainkan angka yang benar-benar sudah kamu keluarkan secara keseluruhan sampai barang itu siap ditawarkan kepada pembeli. Dari sinilah kamu mulai tahu berapa batas terendah harga yang boleh kamu tawarkan tanpa harus merugi, dan berapa selisih yang harus kamu ambil supaya benar-benar ada hasil yang tersisa di tangan.
5. Tambahkan Keuntungan Yang Wajar Dan Juga Biaya Yang Belum Terlihat
Setelah kamu tahu modal sebenarnya, baru kemudian tentukan berapa keuntungan yang pantas untuk diambil. Tapi ingat, jangan langsung merasa sisa itu murni hasil yang bisa dibawa pulang. Masih ada hal-hal kecil yang sewaktu-waktu bisa muncul dan harus ditutup dari hasil penjualan itu. Barang yang tidak terjual sampai rusak, barang yang kurang terjual di hari tertentu, atau kenaikan harga bahan yang tiba-tiba terjadi — semua itu sewaktu-waktu bisa terjadi. Jadi pastikan keuntungan yang kamu tetapkan bukan hanya angka yang membuatmu senang hari itu, tapi juga cukup untuk menjaga supaya besok dan lusa kamu tetap bisa membeli barang lagi dengan kondisi yang sama dan tidak harus menambah uang dari kantong sendiri lagi.
Kesimpulan
Menghitung modal yang benar bukan berarti kamu harus menjadi orang yang pintar matematika atau punya catatan yang rumit. Yang dibutuhkan hanyalah kejujuran terhadap angka-angka yang sebenarnya sudah keluar dari kantongmu, baik yang terlihat besar maupun yang terlihat sangat kecil. Banyak pedagang bertahun-tahun merasa setiap hari sudah untung, padahal sebenarnya mereka hanya mengembalikan uang modalnya sedikit demi sedikit sambil menutupi pengeluaran yang tidak pernah mereka catat. Perubahan itu tidak terlihat dalam sehari atau dua hari. Tapi begitu kamu mulai menghitung dengan cara yang benar ini, lama-lama kamu akan melihat dengan jelas berapa yang sebenarnya masuk, berapa yang harus kembali berputar, dan berapa yang benar-benar menjadi milikmu untuk disisihkan. Dan itulah bedanya antara sekadar menjual barang, dan benar-benar membangun sesuatu yang bisa bertahan dan tumbuh dari hari ke hari.

Posting Komentar